Beranda > Penyakit fisik > Staphylococcus (infection)

Staphylococcus (infection)

Staphylococcus dapat menyebabkan berbagai jenis infeksi pada manusia dan hewan lainnya baik melalui produksi toksin atau invasi. Racun yang dikeluarkan bakteri Staphylococcal umumnya menjadi penyebab keracunan makanan, karena dapat tumbuh dalam makanan yang disimpan. Bakteri ini juga dapat menular melalui pertukaran cairan darah dari orang yang terinfeksi ke orang sehat sehingga dalam hal ini hubungan seksual dapat menjadi sarana penularan.
Staphylococcus terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan enzim coagulase yang dikeluarkannya yaitu positif dan negatif.

A. Coagulase-positif

Staphylococcus yang mengeluarkan enzim coagulase positif  adalah Staphylococcus aureus.

Bakteri S. aureus dapat bertahan di permukaan kering sehingga meningkatkan kemungkinan penularan. S. aureus juga menimbulkan toxic shock syndrome (sindrom racun yang dikeluarkan bakteri); selama  tahun 1980-an, tampon (sejenis penyerap darah pada wanita yang sedang haid, benda ini dimasukkan ke dalam vagina) memungkinkan pertumbuhan S. aureus menjadi cepat dan banyak yang masuk ke dalam darah. Setiap infeksi  S. aureus dapat menyebabkan sindrom staphylococcal scalded skin.  Ia juga dapat menyebabkan jenis septicaemia yang disebut pyaemia. Infeksi ini dapat mengancam hidup. Masalah yang timbul, Staphylococcus aureus resisten terhadap antibiotik Methicillin sehingga menjadi salah satu penyebab infeksi di banyak rumah sakit.

Infeksi-infeksi utama Staphylococcus aureus

1. Tipe infeksi kulit:

– Lebam besar dan kecil pada kulit, kadang berbentuk seperti abscesses (bentuknya seperti kulit bekas suntikan vaksin).

– Besar, dalam, bisul yang disebabkan radang pada bawah kulit disebabkan bacteremia.

2. Tipe Infeksi kulit yang menyebar:

– Impetigo (sejenis bisul karena infeksi bakteri).

3. Tipe infeksi yang lebih dalam dan terlokalisasi:

– Osteomyelitis (infeksi pada tulang) akut dan kronis.

– Septic arthritis.

4. Tipe Infeksi lain:

-Acute infective endocarditis (Radang akut endocarditis/lapisan jantung).

-Septicemia.

-Necrotizing pneumonia (Radang pada paru-paru).

5. Tipe Keracunan:

-Toxic shock syndrome (sindrom racun yang dikeluarkan bakteri).

-Gastroenteritis (Radang pada saluran pencernaan).

-Scalded skin syndrome .

6. Infeksi lainnya termasuk:

-Paronychia.

Diagnosis
Diagnosis tergantung pada jenis infeksi yang hadir, sebuah contoh yang diperoleh dikirim ke laboratorium untuk identifikasi definitif dengan menggunakan tes-tes bio-kimia dan berbasis-enzim. Suatu penanda Gram  diberikan pada sample untuk memandu jalan dan akan menunjukkan tanda khas bakteri gram positif, bentuk fisiknya, dan bentuk gugusannya. Kedua, kultur organisme dalam mannitol salt agar, merupakan media selektif dengan 7-9% NaCl yang memungkinkan S. aureus tumbuh menghasilkan koloni berwarna kuning-sebagai hasil dari fermentasi mannitol dan  penurunan pH media. Selain itu, untuk pembeda pada tingkat spesies, digunakan catalase (positif pada semua spesies Staphylococcus), coagulase (fibrin clot formation, positif untuk S. aureus), DNAse (zona bersih dari nutrient agar), lipase (warna kuning dan menimbulkan bau anyir), dan phosphatase (yang warna pink).

Perawatan antibiotik dan resistensi
Perawatan pilihan untuk infeksi S. aureus adalah penisilin, tetapi di banyak negara, resistensi-penisilin sangat umum terjadi dan   obat garis depan jenis penisilin yang mengalami resistensi adalah oxacillin dan flucloxacillin. Kombinasi terapi dengan gentamicin dapat digunakan untuk mengobati infeksi serius seperti endocarditis, tetapi penggunaannya menimbulkan kontroversial karena tingginya resiko kerusakan pada ginjal. Lama pengobatan tergantung pada lokasi infeksi dan pada tingkat keganasan bakteri.

Aminoglycoside seperti kanamycin, gentamicin, streptomisin, dan lain sebagainya pernah efektif terhadap infeksi Staphylococcal sampai organisme ini mengembangkan mekanisme untuk membinasakan tindakan aminoglycosides.
Methicillin  adalah antibiotik yang yang diperkenalkan di tahun 1959, tetapi hanya dua tahun kemudian, kasus methicillin-resistant S. aureus (MRSA) pertama dilaporkan di Inggris.

Karena tingginya tingkat perlawanan terhadap penicillin, dan karena potensi MRSA untuk mengembangkan perlawanan terhadap vancomycin, sehingga CDC (US) menerbitkan panduan  penggunaan vancomycin. Dalam situasi di mana insiden infeksi MRSA menjadi semakin banyak, dokter diberi pilihan untuk menggunakan antibiotik glycopeptide sampai identitas organisme yang menjangkiti diketahui. Ketika dikonfirmasi muncul infeksi yang disebabkan karena adanya resistensi strain of S. aureus pda methicillin, maka pengobatan dapat diubah ke flucloxacillin atau bahkan penisilin sebagaimana mestinya.

Resistensi Vancomycin adalah strain S. aureus yang telah menjadi tahan terhadap glycopeptide. Kasus pertama vancomycin-intermediate S. aureus (VISA) dilaporkan di Jepang pada tahun 1996; tetapi kasus pertama  S. aureus benar-benar tahan terhadap antibiotik glycopeptide baru dilaporkan pada tahun 2002. Tiga kasus infeksi VRSA (Vancomycin-resistant S. aureus telah dilaporkan di Amerika Serikat pada 2005.

Kontrol terhadap infeksi
Penyebaran S. aureus (termasuk MRSA) adalah melalui kontak manusia ke manusia, meskipun baru-baru ini ditemukan bahwa infeksi dapat menyebar melalui hewan peliharaan. Penekanan pada teknik dasar  mencuci tangan  efektif dalam mencegah transmisi S. aureus. Penggunaan sarung tangan dapat mengurangi kontak kulit-kulit dan karena itu lebih mengurangi resiko penularan.

B. Coagulase-negatif

  1. S. epidermidis, sebuah spesies coagulase-negatif Staphylococcus , adalah teman dari kulit, namun dapat menyebabkan infeksi parah pada kondisi kekebalan pasien rendah dan dapat masuk ke dalam pembuluh darah halus bawah kulit.
  2. S. saprophyticus, merupakan spesies coagulase-negatif lain  yang merupakan bagian dari flora normal di vagina, pada umumnya menyebabkan  infeksi sistem genitourinary  pada perempuan muda  seksual-aktif.
  3. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa spesies Staphylococcus telah diteliti dapat menginfeksi manusia, terutama S. lugdunensis , S. schleiferi, dan S. caprae.

Sumber: Wikipedia : Staphylococcal infection dan Staphylococcus aureus

Semua isi artikel ini hanyalah merupakan informasi untuk menambah pengetahuan, diagnosa dan obat untuk menyembuhkan penyakit terkait dengan artikel ini HARUS dikonsultasikan kepada dokter sesuai bidangnya terlebih dahulu.

Iklan
  1. 22 April 2013 pukul 06:29

    Good day, I have dry cough complications and while I was browsing the web for a remedy, I have
    been greeted by your site! I enjoy the information very
    much. Please write more!

  2. 15 Mei 2013 pukul 09:03

    It’s really a cool and helpful piece of information. I am glad that you just shared this helpful info with us. Please keep us up to date like this. Thanks for sharing.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: