Beranda > Renungan > Memuji orang lain

Memuji orang lain

Memuji itu berada pada deretan teratas dari daftar hadiah terindah dari satu manusia ke manusia lainnya, memang ada hadiah lain yang indah seperti senyum dan mengingat nama seseorang dengan baik, tetapi memuji itu memberikan efek psikologi yang besar jika dilakukan dengan tulus dan spontan. Juga, memang, lebih banyak orang yang suka dipuji ketimbang dimaki (walaupun orang yang memaki itu pada posisi benar).

Pujian itu bisa terucap dari adanya sesuatu yang baik pada fisik, materi, kebaikan, kedermawanan, kepintaran, dan lain sebagainya. Namun pada umumnya, orang memuji orang lain karena orang tersebut telah berbuat baik padanya. Padahal sesungguhnya, memuji orang apa adanya walaupun kita berada pada titik terzholimi oleh orang tersebut jauh lebih baik daripada saat kita mendapatkan kebaikan dari orang itu. Ini menunjukkan bahwa kita selalu dalam kondisi stabil dalam kesabaran, bahasa umumnya dewasa dalam pergaulan.

ilustrasi

Orang yang dipuji tentunya akan bahagia, senang, dan merasa tenteram (juga menimbulkan rasa aman), efek lainnya adalah orang yang kita puji biasanya merasa bahwa kita ini orang baik. Memang ada orang yang memuji karena ingin ‘mencari muka’, tetapi hal ini tentunya tidak baik untuk ditiru. Memuji orang lain itu alangkah baiknya jika kita lakukan pada setiap saat kepada setiap orang yang kita temui, lihatlah kebaikan yang ada pada orang lain, hal ini lebih baik daripada selalu melihat (apalagi senang) melihat keburukan orang lain.

Memuji itu juga memberikan kemudahan kita untuk dapat berkomunikasi kepada orang lain, bagi orang yang merasa kurang pede dengan kondisi fisik atau materinya, memuji orang lain dengan ikhlas, berkesinambungan, dan berkualitas itu bisa dijadikan kelebihan yang memang jarang dimiliki orang lain. Bagi sebagian orang yang terbiasa dengan berpuasa (apapun agamanya), menahan diri adalah salah satu dari tujuan yang ingin dicapai dari puasa itu sendiri. Menahan diri itu artinya sabar, dan sabar terbaik adalah dengan tidak membalas keburukan orang lain dengan keburukan yang berlipat-lipat melainkan dengan senyuman dan keikhlasan kita dalam memuji kebaikan orang tersebut. Berat bukan? 🙂 ya namun hal ini bisa menjadi ukuran ‘kesuksesan’ kita berpuasa.

Sungguh hanya sedikit orang yang bisa melakukan hal ini, saya (pen.) pun juga kadang sulit memuji orang lain karena pengaruh kultur kita yang memang jarang memunculkan pujian sebagai sarana memperbaiki kualitas hidup kita.

Jika kita mau jujur maka kita akan mengakui bahwa kadang ego kita sering menghalangi kita untuk memuji orang lain, kita merasa lebih baik dari orang lain sungguh pengganjal untuk bisa membuat orang lain disekitar kita bahagia. Ke-aku-an memang fitrah setiap orang, tetapi hal ini seyogyanya harus bisa ditekan supaya orang lain senang.

Seorang suami yang jarang memuji istrinya akan membuat sang istri lama-kelamaanbisa  stress karena setiap wanita secara fitrah memang merupakan makhluk yang senang dipuji, walaupun sang istri sangat mencintai sang suami, bagaimanapun dia tetap menginginkan pujian itu. Inilah yang bisa membuat rumahtangga langgeng, tekan ego kita dan semuapun akan mengalir apa adanya walau ibaratnya kita setiap hari lebih sering  ‘sepiring berdua’. Begitu juga sebaliknya, istri pun harus belajar untuk memuji suaminya, pujian yang dilontarkan istri dalam intensitas yang tinggi akan membuat suami senang dan lebih ikhlas untuk membahagiakan istrinya karena laki-laki suka dipuji apalagi menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan ke-aku-an laki-laki itu. “Ah bapak hebat sekali”, “Bapak jenius”, ini hanya beberapa contoh walau hebat dan jenius itu sangat luas maksudnya tetapi bagi seorang laki-laki pujian itu bisa dengan bahasa yang mudah dan sederhana namun sering diucapkan.  Kalau memuji istri itu sebaiknya dalam kalimat yang mendetail dan itu lebih disukai wanita daripada menggunakan bahasa yang sederhana. Pujian terhadap istri itu tidak harus terus menerus, yang penting itu dikemas dalam bentuk kejutan yang tidak disangka-sangka sang istri.. kadang wanita lebih suka kejutan walau itu hanya berupa ucapan yang indah.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Iklan
Kategori:Renungan Tag:, ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: