Beranda > Nasional > Satu tewas saat latihan penanganan bom di Bitung

Satu tewas saat latihan penanganan bom di Bitung

Berlatih menangani bom teroris, ternyata bomnya benar-benar meledak. Musibah itu terjadi kemarin pagi (2/8) pada simulasi penanggulangan antiteror yang digelar Polda Sulawesi Utara (Sulut) di Dermaga Markas Polair dan Pelabuhan Samudera Bitung. Peristiwa yang tak seharusnya terjadi itu menyebabkan seorang anggota Brimob tewas dan empat polisi lainnya luka berat.

Pukul 09.00 Wita dimulailah latihan tersebut. Kegiatan diawali dengan skenario aksi menembak di speedboat. Speedboat itu lalu merapat ke sebuah kapal, seakan-akan itu kapal asing yang merapat ke pelabuhan dan diincar teroris. Oleh teroris, bom diletakkan di tempat sampah dekat pelabuhan tempat kapal asing itu merapat.

Speedboat berisi lima anggota polisi tadi menuju pelabuhan untuk mengambil bom di tempat sampah itu. Selanjutnya bom tersebut dijinakkan ke tengah laut. Tapi, skenario yang tak terduga terjadi. Blaar…. Bom itu meledak sebelum dibuang. Insiden itu menewaskan Brigadir James Tampolas. Empat polisi lainnya luka berat. Mereka adalah Ipda Frangky Turang, Brigadir Abdul Rahman Mas Hanafi, Bripka Anto Sidik, dan Bripda Erian Tamboto.

“Insiden ini murni karena kece­lakaan latihan, technical error yang menjadi risiko da­lam latih­an,” kata Kapolda Sulut Brigjen Pol Bekto Suprapto. “Ledakan ini terjadi akibat kesalahan teknis pada mesin pengacau jari­ngan yang tidak berfungsi dengan baik,” tambah mantan komandan Densus 88 Antiteror Mabes Polri ini. Tapi, sumber lain men­duga, bom itu meledak karena korsleting se­telah terkena air saat diletakkan di tempat sampah di pinggir dermaga.

Kepada wartawan Kapolda Su­lut juga mem­benarkan soal tewasnya seorang anggota Brimob dan empat polisi lain yang luka be­rat. “Korban-korbannya sudah mendapat penanganan dokter,” tambah Bekto. “Sekali lagi, ini mur­ni kecelakaan dan merupakan risiko latihan,” imbuhnya.

Hingga tadi malam empat korban luka berat masih dirawat di RS Bhayangkari Manado. Di bagian lain, suasana penuh haru mewarnai rumah duka Briga­dir James Tampolas di kompleks Perumahan Griya Indah Blok B, Manado, kemarin sore. Di antara ke­luarga, Albert Lesawengan, 52, tampak paling terpukul. Dia adalah mertua James.

Albert lantas menceritakan hari-hari ter­akhir pertemuannya dengan James. Diceritakan, Jumat pagi (31/7) atau sehari sebelum pe­risti­wa nahas itu terjadi, anggota Brimob ber­umur 28 tahun itu terlihat ter­gesa-gesa. Saat ditanya, James mengatakan harus cepat-cepat mempersiapkan bom yang akan di­jadikan simulasi.

“Siangnya, waktu makan siang, dia (James) pesan kelapa muda,” ke­nang Albert. Dia juga tak bisa lupa terhadap janji yang pernah disampaikan menantunya itu. “Dia berjanji, setelah acara Sail Bunaken, akan membelikan kami TV 21 inchi,” ujarnya. Kini janji itu hanya tinggal kenangan. James meninggalkan seorang istri, Novlita Lesawengan, 25, dan seorang anak laki-laki semata wayangnya, Jesi Tampolas, yang masih berusia 2,5 tahun. (Sumber: Jawapos.com)

Yah lain kali benar-benar direncanakan latihannya ya pak, kalo perlu pakai bom petasan aja biar gak beresiko besar bagi polisi yang ikut latihan.

Iklan
Kategori:Nasional Tag:
  1. Sjamsumar.H
    29 Maret 2016 pukul 11:13

    Setahu saya.Satpam itu tidak sampai menangani bom bila itu ditemukan hanya kasih police line kemudian tg gegana datang.
    kok ini mau dilatih sampai menangani bom..?
    Sdh gt pakai granat tajam lagi…apa gak punya yang palsunya… i?
    Ini pastinya kesalahan prosedur….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: