Beranda > Renungan > Melatih akal kita

Melatih akal kita

Ketika kita berada dalam pilihan hidup, pilihan yang akan mengubah masa depan kita maka ketika itulah kita akan berusaha menjadi diri sendiri. Pilihan-pilihan yang akan mengubah masa depan kita itu bisa berupa pekerjaan baru, berumah tangga, memiliki bayi baru, pindah rumah, dan lain sebagainya. Terlepas dari banyak pertimbangan dari orang lain, diri kita, secara naluriah berada pada kondisi bingung dan cemas. Walaupun itu pilihan yang bagus, tetap saja hal itu muncul sebagai kondisi dimana hormon-hormon di dalam tubuh kita bekerja. Bingung dan cemas tidak harus berkonotasi negatif, bisa jadi hal ini merupakan  luapan kegembiraan yang tak bisa terungkap dengan kata-kata. Beberapa orang mengekspresikan dirinya dengan menangis, namun ada pula yang berlebihan dalam prilaku kesehariannya.

Ada orang yang tidak peduli, padahal pada kenyataannya dia sangat memikirkan hal itu. Hanya sedikit orang yang tidak memikirkan sekaligus tidak peduli, namun, memang lebih banyak yang menampakkan ekspresi secara fisik dan psikologis. Memikirkan sesuatu adalah manusiawi, terlepas dari perangainya yang sangat ‘pemikir’ , hal kecil dipikirkan sehingga dirinya menjadi stress karena pikirannya tak terkendali dan melebar kemana-mana sehingga berada di luar kemampuan dirinya untuk menjangkaunya. Stress ini bisa berupa menjadi sakit, lebih pemarah, pemurung, dan kadang bisa menampakkan ekspresi-ekspresi yang tidak biasa bagi kebanyakan orang seperti sering mengigau dan berbicara sendiri. Kepedulian itu perlu, tetapi berlebihan dalam memikirkan sesuatu yang sering terjadi dalam hidupnya adalah hal yang perlu diperbaiki karena itu akan membuang waktu dia sekaligus menghambat kreatifitasnya. Ingat bahwa memori otak setiap orang itu berbeda-beda, ada yang mampu fokus memikirkan 2-3 hal sekaligus secara bergantian (jarang yang bersamaan), ada juga yang hanya mampu fokus memikirkan satu hal saja dalam satu waktu. Ada orang yang bisa lama berpikir untuk memecahkan sesuatu hal, ada pula yang hanya memerlukan sedikit waktu untuk kemudian mengambil keputusan (saya menyebutnya ‘syaraf tol’ – karena seakan bebas hambatan dan segalanya cepat).

Tidak ada yang salah dengan anugerah yang diterima setiap orang berupa otak. Isi otak yang berbeda sebenarnya merupakan anugerah sehingga manusia bisa saling berinteraksi dan mengisi kelemahan satu sama lain. Namun ‘standarisasi’ hidup sebagai manusia normal dengan memiliki akal yang dioptimalkan penggunaannya adalah suatu keharusan untuk bisa menjadi orang yang sukses (dalam karier pekerjaannya, rumah tangga, kehidupan spiritual, dan sebagainya). Lebih dini secara usia dalam melatih (dan membesarkan kapasitas) otak adalah lebih baik. Semakin menua usia seseorang akan berpengaruh pada pelambatan bahkan penghentian pertumbuhan sel-sel otaknya. Jadi, usia yang muda adalah masa dimana manusia  memerlukan pelatihan terhadap kemampuan otaknya. Ini adalah tugas setiap orang tua terhadap anak-anaknya, guru di sekolah hanya merupakan tambahan dan merupakan orang-orang yang dipilih oleh orang tua biologis anak tersebut, bagaimanapun kesalahan orang tua dalam memilih sekolah atau guru bagi anaknya akan berpengaruh pada perjalanan hidup anaknya kelak di kemudian hari.

Standarisasi kehidupan itu adalah ukuran-ukuran optimal dalam segala hal di kehidupan ini yang bisa diterima secara logika. Biasanya manusia itu memiliki ukuran-ukuran tambahan berupa adat, agama, dan dalam kehidupan bermasyarakat akan berupa aturan yang dispakati bersama. Standar minimal hidup itu identik dengan hal yang berbau praktis. Hal-hal yang tidak perlu dan membuang waktu harus disingkirkan. Diperlukan pembelajaran terus menerus untuk mendapatkan apa yang seharusnya dilakukan dalam hidup ini, bukan semestinya (biasanya karena kita hanya melihat dan menjiplak mentah-mentah standar orang lain serta berkaitan dengan faktor emosional).

Manusia yang merdeka itu bisa memilih. Manusia yang yang merdeka itu mengedepankan akal sehatnya ketimbang perasaan. Kita memang perlu perasaan dalam mengambil suatu keputusan, namun bagaimanapun jika kita ingin mengoptimalkan hasil dari suatu keputusan maka kita harus menggunakan standar itu tadi. Akal kita jika dilatih berpikir logis akan berpengaruh dalam keseharian kita. Jika kita biasa melatih hal-hal yang logis maka kita tidak akan takut terhadap apapun karena kita sudah mengantisipasinya terlebih dahulu. Mungkin anda akan bingung membaca tulisan saya ini, namun bagi orang yang biasa belajar marketing atau ke-teknik-an (dengan segala cabangnya) akan dengan mudah memahami.  Saya tidak bicara orang yang punya gelar-gelar akademis eksakta, orang yang berpikir logis mungkin terpengaruh karena desakan gelar yang dimilikinya, bisa berpikir secara logis itu karena latihan terus menerus bukan karena dia sekedar memiliki gelar akademis (banyak juga sarjana yang lambat dalam berpikir dan ini merupakan kenyataan di masyarakat). Siapapun bisa menjadi orang pintar dalam artian mengedepankan akalnya ketimbang emosi atau perasaannya asal itu dilatih, sering membaca buku sains mungkin salah satu jalannya, begitupula sering berdiskusi dengan berdasar pada sesuatu dasar/dalil yang pasti dan diterima oleh banyak orang.

Jadi menggunakan akal kita, berpikir logis adalah pondasi jalan menuju standarisasi hidup yang saya sebutkan di atas tadi. Orang pintar tidak akan mudah tertipu dengan iklan obat apapun di TV atau koran tanpa membaca terlebih dahulu dosis obat, kontraindikasi, pantangan, dan segala hal yang kadang lebih banyak dituliskan dalam selembar kertas di dalam kemasan kotak obat. Orang pintar akan terus memiliki cara untuk bisa survive dalam hidup. Terlepas dari nasib orang yang berbeda-beda, tetap saja kita dituntut menggunakan akal kita untuk mengambil keputusan.

Jika anda membuang waktu anda saat ini, maka di masa depan anda tidak akan mendapatkan apa-apa. Jika anda terlena dengan kemapanan hidup (mungkin karena sudah hidup berkecukupan, memiliki pekerjaan yang bergaji besar, keluarga yang bahagia, dll) tanpa memikirkan hal yang kemungkinan terburuk terjadi di masa depan maka anda akan terjerembab dalam jalan yang buntu di masa mendatang saat menghadapi kesulitan yang sebenarnya bisa dipecahkan dengan mudah. Segalanya kembali kepada persiapan, siap bahagia maka harus siap menderita, siap menang maka harus siap kalah, siap kaya maka harus pula siap miskin dan lain sebagainya.  Oleh sebab itu, saat ini adalah saat yang tepat untuk mengubah kemalasan kita untuk menjadi lebih, lebih dan lebih, bukan hanya dalam hal kekayaan tetapi juga (dan ini lebih utama) adalah kebahagiaan yang bagaimana yang anda inginkan di masa mendatang.

Iklan
Kategori:Renungan Tag:
  1. 6 Juli 2009 pukul 15:34

    Cool!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: