Beranda > Renungan > Kita akan tahu setelah kita mencobanya

Kita akan tahu setelah kita mencobanya

Hari ini, saya membuat suatu grup di facebook saya. Grup mengenai lingkungan tempat tinggal saya, ini adalah hal yang sederhana. Sesuatu yang kita pandang sederhana, sebenarnya menjadi rumit dan pelik jika kita tidak terbiasa melakukannya. Nyatanya, dalam sehari sudah 15 orang yang bergabung, bukan apa-apa karena kebetulan saya memulai dari teman dan saudara yang saya kenal.

Lalu, saya  berpikir bahwa kadang ide itu datangnya belakangan, saat pikiran buntu.. dia datang. Kadang saya juga berpikir ada kekuatan yang menuntun saya untuk melakukan ini dan itu. Sejujurnya saya tidak begitu memperdulikan ramalan, mimpi, bisikan hati yang terlintas maupun yang agak lama menggoda, dan segala hal yang tidak bisa dipastikan asal muasal dan tentu saja tidak logis. Hanya percaya Tuhan, dan saya berpikir segala hal yang positif memang harus diarahkan kepada Tuhan (terlepas dari istilah takdir, ini sesuatu misteri yang bagi siapapun tidak bisa menghitung-hitung segala hal yang berkaitan dengan ‘takdir’ ini).

Sebelum saya membuat grup yang terakhir di facebook tadi, saya sudah membuat beberapa grup di facebook. Namun jumlah anggotanya sedikit, karena tampaknya grup yang saya buat terlalu luas jangkauannya. Walaupun kemungkinan saya akan mendapatkan banyak anggota dari grup yang sifatnya universal dan lintas geografis, namun saya harus realistis karena apa yang ditawarkan dalam grup saya mungkin tidak menarik untuk saat ini. Tampaknya memang, saya dan mungkin anda yang ingin melatih membuat grup-grup di FB harus memulai dari sesuatu yang kemungkinan bisa cepat mendapat anggota dari hal yang paling sederhana. Tentunya dengan banyak mencoba, trial dan error, jatuh bangun. Semoga jatuh bagun tadi memunculkan kesimpulan tertentu pada diri kita untuk lebih baik ke depannya dalam menghadapi hal yang sama.

Dan.. seringkali kita tergerak untuk bergerak, namun tampaknya lebih banyak kita sendiri lah yang harus mengambil inisiatif untuk bergerak (walau inipun tidak terlepas dari istilah ‘tergerak’ tadi). Bagaimanapun, pikiran kita harus selalu ‘on’.. memikirkan hal-hal yang baik dengan arah ke depan (ke masa depan). Tampaknya ini seperti impian, mungkin juga iya mungkin juga tidak. Pengalaman saya, jika kita mencoba mengimpikan sesuatu, maka saya harus  harus tetap berada dalam koridor sesuatu yang kemungkinan masih bisa saya capai, bukan sekedar bermimpi;  misal tiba-tiba secara simsalabim di depan kita terdapat makanan atau emas berlian, tidak!  bukan itu. Kita harus berani mengimpikan sesuatu setinggi mungkin sampai batas terpinggir dari yang mungkin kita bisa capai, dalam hal ini batas saya mungkin berbeda dengan batas anda. Kita juga harus selalu mencari tahu dimanakah batas itu. Jarak antara kondisi saya saat ini sampai batas yang mungkin bisa saya capai mungkin lebih pendek daripada batas yang anda miliki, mungkin juga sebaliknya, itu tergantung kebiasaan kita dalam ‘menghayal’.

Bebahaya-nya jika kita mengimpikan sesuatu yang melebihi dari kemungkinan kita bisa mencapainya adalah ada kemungkinan kita akan terlalu menikmati hayalan itu sampai waktu kita banyak terbuang percuma untuk menghayalkan sesuatu yang tentu saja tidak terbatas itu, dan biasanya pikiran kita akan  lari kemana-mana. Bahaya lain adalah bahwa kita akan ketagihan untuk terus menghayal, dan implikasinya dalam kehidupan adalah kita akan bertindak seolah-olah kita berada dalam realita ‘mimpi’ kita itu.. Gampangnya.. ini seperti kita selesai menonton suatu film yang bisa membawa kita hanyut di dalamnya, bisa jadi kita seakan seperti jagoan, bisa jadi tingkah laku kita akan seperti di film itu, dan sebagainya. Walau itu hanya sesaat, sebelum kesadaran ‘normal’ kembali. Tentu saja hayalan yang terus menerus kita paparkan di memori otak kita itu akan menimbulkan bekas mendalam. Itu akan mengalihkan kita pada realita hidup yang sedang kita jalani saat ini.

Kita harus tetap melihat realita hidup, kondisi kita, kemampuan yang kita miliki saat ini. Memberi pelajaran yang terbaik bagi diri kita adalah dengan sering mencoba sesuatu yang baru, yang kira-kira kita malas melakukakannya, padahal itu mungkin baik bagi kita. Kita harus memaksakan itu supaya tubuh (baca memori) kita mendapat pengalaman – dan ‘bergerak maju’ – bukan jalan di tempat. Jika kita takut maka kita akan menjadi malas, jika kita berani/memberanikan diri maka walau mungkin malas – setidaknya- kita akan mendapat pengalaman baru.

Tubuh kita perlu ‘vaksin’ untuk alam psikologi kita. Seperti vaksin biasa yang berisi virus yang dilemahkan, vaksin dalam alam psikologi kita juga berbentuk pengalaman ‘yang sudah dilemahkan’. Cobalah sesuatu yang bisa kita coba saat ini. Sehingga diharapkan nantinya kita mendapat pengalaman untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk atau bahkan melatih kemampuan insting kita dalam menangkap segala peluang yang positip.

Masa kecil

Sewaktu saya masih SD (sekolah dasar), pada pelajaran menggambar, saya sering menggambar pemandangan: ada dua gunung, di tengah-tengahnya terdapat sedikit awan dan matahari, di bagian ‘bawah’ atau depannya saya gambarkan jalan dengan sawah-sawah dan beberapa rumah. Saya sering menggambar hal yang sama, dari kelas satu sampai kelas lima ya gambar saya tidak jauh dari dasar gambar yang telah saya ‘latih’ tadi. Teman-teman saya juga kebanyakan menggambar yang sama atau mirip dengan apa yang saya gambar tadi (untuk mendsikripsikan sesuatu yang disebut pemandangan). Anehnya guru menggambar saya membiarkan hal itu, dengan tidak mengurangi hormat saya kepada beliau, bagaimanapun membiarkan hal itu akan membuat murid menjadi tidak kreatif di kemudian hari. Saya mengalami kesulitan dalam melakukan hal yang baru karena pakem (patokan) yang sudah terpatri di memori saya  ya begitu. Beberapa teman-teman baru, teman kuliah dan kerja yang berbeda SD pun kebanyakan mengalami hal yang sama dengan apa yang telah saya alami sewaktu masih SD tadi.

Saya melihat sesuatu yang baru dari buku-buku, khususnya buku-buku yang penulis atau penerbit aslinya dari luar Indonesia. Dalam suatu ensiklopedi, saya mengambil gambar suatu peperangan di lautan pada abad kolonial dan melukiskannya ulang pada suatu kanvas pada waktu saya mengikuti pelajaran melukis sewaktu SMP kelas tiga.  Ternyata guru saya memberikan apresiasi positif (lebih ketimbang teman saya), walau itu jika saya mau jujur ya namanya menjiplak walau tidak sama persis dari lukisan yang pernah dibuat orang lain, sama dengan jika saya menterjemahkan suatu artikel dari bahasa asing ke bahasa Indonesia dengan apa adanya tanpa melakukan penyesuaian isi kalimat/paragraf terlebih dahulu (sehingga pembaca akan mudah menangkap dan memahami apa isi artikel itu). Kesulitan-kesulitan saya untuk mendapatkan ide baru, berpikir kreatif, bagaimanapun pasti akan dialami oleh kebanyakan orang Indonesia karena kita mendapatkan cara pembelajaran yang sama dari kecil: “carilah hal yang ter-aman, yang penting dapat nilai walau itu cuma nilai 6 atau 7  (dalam skala 1-10), yang penting kita bisa naik kelas dan lulus – tentu saja hal ini membanggakan kedua orang tua kita”. Bekerja juga begitu, kebanyakan dari kita sudah ter’doktrin’: “jadi PNS itu aman bagi masa depan kita”. Jujurlah dan benarkan hal itu jika memang benar, setelah itu kita bisa melangkah lebih jauh lagi untuk menjadi orang yang kreatif, untuk bisa tetap hidup dan bahkan menghidupi banyak orang (bukan karena paksaan kondisi kepepet secara ekonomi). Manfaat yang akan kita dapatkan jika kita berpikir selalu kreatif bukan hanya untuk diri kita, ini juga akan menular kepada keluarga kita khususnya pada anak-anak kita dan generasi sesudahnya.

Hmm… namun saya ini agak sedikit berjiwa pemberontak, orang bilang : saya (pen.) lebih suka memilih menebas semak-semak untuk membuat jalan baru (walau itu mungkin nantinya akan membuat saya tersesat) ketimbang mengikuti jalan mulus beraspal yang sudah ada dan telah dibuat oleh orang lain sebelumnya. Ini mungkin menakutkan bagi orang lain, seperti berjalan dikuburan pada malam hari atau tidur dengan lampu yang dimatikan/redup. Namun jika kita masih takut melakukan hal yang baru (baca: menakutkan), cobalah berpikir logis – pikirkan hal yang terburuk yang mungkin akan kita dapatkan nantinya, dengan begitu kita akan mempersiapkan diri sebelumnya dan tidak terkejut (menyebabkan shock-trauma bagi diri kita dalam menghadapi hal yang sama). Bagaimanapun saya pribadi masih tetap belajar (walau usia sudah semakin menua), saya berpikir bahwa apapun doktrin di masa lalu yang tidak perlu, tidak efisien, harus saya buang: saya harus menciptakan memori baru untuk semua isi DNA dalam sel-sel tubuh saya supaya mereka ketagihan untuk mendapatkan pengalaman baru lagi, lagi dan lagi.

Mencoba sesuatu itu baik, tetapi kita harus pelan-pelan melakukannya sesuai kemampuan diri kita. Lebih sering lebih baik, dan otak akan terlatih dengan sendirinya. Ada beberapa orang yang memiliki bakat untuk berani berspekulasi dalam hidup, namun tampaknya lebih banyak yang ‘tidak’ memilikinya (mungkin dia memilikinya, tetapi lingkungan mendoktrin orang ini sejak kecil untuk takut menghadapi realita atau terlena dengan kemapanan hidup yang dimilikinya).

Iklan
Kategori:Renungan Tag:
  1. 29 Juni 2009 pukul 17:29

    Assalamu’alaikum..

    nice artikel

    Salam

  2. pisangkipas
    1 Juli 2009 pukul 02:16

    Wa’alaikumsalam, terimakasih udah berkunjung.

  3. 6 Januari 2012 pukul 08:46

    membaca artikel ini mengingatkan saya pada diri saya beberapa bulan yang lalu. Tiga bulan yang lalu saya hijrah ke kalimantan, keluar dari peraduan saya di makasar, hendak mencari kejutan kejutan lain dalam hidup. manusia terkadang kehilangan sense of fighting. Dulu, ketika kita masih kecil kita tak takut terluka. meskipun berkali kali jatuh, kita bangun dan kembali mencoba berjalan. Apapun itu, kita harus mencoba keluar dari zona nyaman kita sebab kita dibekali akal oleh Tuhan. Satu anugrah yang tiada harganya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: