Beranda > Penyakit fisik > Lung cancer, kanker paru-paru

Lung cancer, kanker paru-paru

Kanker paru-paru merupakan sebuah penyakit pertumbuhan sel yang tak terkendalikan dalam jaringan sel-sel di paru-paru. Hal ini dapat mengakibatkan pertumbuhan metastasis yang merupakan invasi dan penyusupan pada jaringan yang berdekatan  di luar paru-paru. Mayoritas utama kanker paru-paru  (carcinoma paru-paru)  berasal dari sel-sel epithelial. Kanker paru-paru paling umum menyebabkan kanker yang berhubungan dengan kematian pada laki-laki dan merupakan kanker kedua yang paling umum menyebabkan kematian pada wanita (setelah kanker payudara). Kanker paru  bertanggung jawab atas 1,3 juta kematian di seluruh dunia setiap tahunnya.

Klasifikasi
Sebagian besar kanker paru-paru berupa carcinoma/kanker yang ganas dan timbul dari sel epithelial. Ada dua jenis utama carcinoma paru-paru, pengkategorian berdasarkan pada ukuran dan tampilan sel-sel ganas yang terlihat di bawah mikroskop yaitu : Non-small cell lung carcinoma (80,4% dari kasus kanker paru) dan Small cell lung carcinoma (16,8% dari kasus kanker paru).

Non-small cell lung carcinoma (NSCLC)
NSCLC dikelompokkan bersama karena prognosa dan manajemen mereka sama. Terdapat tiga sub-jenis NSCLC: squamous sel carcinoma, adenocarcinoma, dan large cell carcinoma.

squamous sel carcinoma mencakup 31,2% dari kasus kanker paru-paru, squamous sel carcinoma biasanya dimulai dekat bronchus pusat, jenis NSCLC ini tumbuh lebih lambat dibandingkan jenis kanker lainnya.

Adenocarcinoma menyumbang 29,4% dari kasus kanker paru-paru. Biasanya berasal dari jaringan sekeliling  paru-paru. Sebagian besar kasus adenocarcinoma terkait dengan merokok, namun di antara orang-orang yang tidak pernah merokok ( “tidak pernah menjadi perokok”), adenocarcinoma adalah yang paling umum membentuk kanker paru-paru.

large cell carcinoma adalah kasus yang jarang terjadi (tidak umum terjadi).

Small cell lung carcinoma (SCLC)
SCLC mencakup 20 % dari kasus kanker paru-paru, ini cenderung lebih besar terjadi di saluran udara (bronchi dasar dan menengah) dan berkembang pesat, menjadi cukup besar.Meskipun pada awalnya lebih peka terhadap kemoterapi, ia akhirnya membawa prognosa yang buruk dan sering menjadi metastatic. SCLC dibagi menjadi tahap penyakit terbatas dan meluas. Jenis kanker paru-paru sangat berhubungan dengan merokok.

Lainnya
Pada bayi dan anak-anak, yang paling umum adalah kanker paru-paru  pleuropulmonary blastoma dan carcinoid tumor.

Kanker sekunder
Paru-paru merupakan tempat metastasis tumor yang berasal dari bagian tubuh lain. Kanker sekunder ini diidentifikasi melalui lokasi asalnya; sehingga, sebuah kanker payudara metastasis ke paru-paru akan dikenal sebagai kanker payudara.

Tanda-tanda dan gejala
Gejala-gejala kanker paru-paru antara lain:

  • Dyspnea (sesak nafas/nafas pendek),
  • Hemoptysis (batuk berdarah),
  • Batuk kronis atau perubahan pada pola batuk biasa,
  • Wheezing, yaitu desah yang berkesinambungan, kasar, dan munculnya suara seperti bersuit yang dihasilkan dari saluran pernafasan selama bernafas,
  • Dada sakit atau sakit di wilayah abdomen (perut),
  • Cachexia (kehilangan berat badan), kelelahan dan hilangnya nafsu makan,
  • Dysphonia (suara serak),
  • Clubbing (kelainan pada bentuk jari), dan
  • Dysphagia (kesulitan menelan).

Jika kanker tumbuh di saluran udara maka dapat menghambat aliran udara, menyebabkan kesulitan bernapas. Hal ini dapat mengakibatkan akumulasi (penumpukan) pengeluaran udara di belakang tumor tadi yang merupakan awal pneumonia (radang paru-paru). Banyak kanker paru-paru yang kaya pasokan darah (akibat tekanan udara). Permukaan kanker yang rentan/tipis bisa menyebabkan perdarahan dari kanker ke saluran udara. Darah ini selanjutnya akan keluar bersama dengan batuk.

Tergantung pada jenis tumor, yang disebut paraneoplastic phenomena (konsekuensi adanya kanker di dalam tubuh, tetapi tidak karena kehadiran lokal sel-sel kanker) mungkin pada awalnya menarik perhatian terhadap penyakit ini. Dalam kanker paru-paru, fenomena ini mungkin termasuk sindrom Lambert-Eaton myasthenic  (kelemahan otot karena auto-antibodi), hypercalcemia, dan syndrome of inappropriate antidiuretic hormone (SIADH). Tumor-tumor di bagian atas (apex) paru-paru, dikenal sebagai Tumor Pancoast, bisa menyerbu bagian lokal dari sistem saraf simpatik yang menyebabkan perubahan pada pola berkeringat dan masalah pada otot mata  (sebuah kombinasi yang dikenal sebagai Horner’s syndrome) serta kelemahan otot di tangan akibat invasi pada brachial plexus (susunan serat syaraf di bagian dalam dada ke arah kepala).

Banyak gejala kanker paru-paru lainnya, diantaranya sakit tulang, demam, dan penurunan berat badan namun hal ini bersifat non spesifik (karena bisa juga merupakan gejala penyakit lainnya) pada orang tua. Dalam banyak pasien kanker yang telah menyebar ke luar lokasi awal, terdapat beberapa gejala dan hal ini menjadi perhatian medis. Lokasi metastasis (kanker yang menyebar) yaitu otak, tulang, kelenjar adrenalin, contralateral (berlawanan) paru-paru, hati, selaput jantung, dan ginjal. Sekitar 10% dari penderita kanker paru-paru tidak ada gejala saat didiagnosa; namun kanker ini dapat ditemukan pada hasil rontgen di dada.

Penyebab
Penyebab utama kanker paru-paru (dan kanker pada umumnya) yaitu carcinogen (substansi/zat dalam asap tembakau), radiasi ionizing, dan infeksi virus. Paparan yang terus menerus dan terakumulasi ini menyebabkan perubahan pada DNA di lapisan jaringan bronchi paru-paru (yang berhubungan dengan cabang tenggorokan epithelium). Semakin banyak jaringan yang menjadi rusak mengakibatkan kemunculan kanker.

Merokok
Merokok, terutama rokok sigaret, adalah kontributor utama kanker paru-paru. Di negara-negar berkembang, hampir 90% dari kematian karena kanker paru-paru disebabkan oleh merokok. Di Amerika Serikat, merokok diperkirakan meliputi 87% dari kasus kanker paru-paru (90% pada laki-laki dan 85% pada perempuan). Di antara laki-laki perokok, risiko di masa pengembangan kanker paru-paru adalah 17,2%; di kalangan wanita perokok, risikonya 11,6%. Risiko ini secara signifikan lebih rendah dibanding pada orang yang tidak merokok: 1,3% pada laki-laki dan 1,4% pada perempuan. Asap rokok mengandung lebih dari 60 carcinogen, termasuk di dalamnya : radioisotop-radioisotop urutan radon yang hilang, nitrosamine, dan benzopyrene. Selain itu, nikotin bisa menekan/menurunkan  tanggapan imun terhadap pertumbuhan sel ganas di jaringan yang terpapar nikotin.

Lamanya usia menghisap rokok pada seseorang (serta tingkat merokok) akan meningkatkan kesempatan pengembangan kanker paru-paru. Jika orang berhenti merokok, peluang ini terus menurun karena kerusakan pada paru-paru mengalami perbaikan dan partikel-partikel asing (akibat asap rokok tadi) dihapus secara bertahap.

Perokok pasif – orang yang tidak merokok tetapi menghisap asap rokok dari orang lain – bisa memiliki kanker paru-paru dalam tubuhnya. Perokok pasif bisa jadi merupakan  seseorang yang tinggal atau bekerja bersamaan dengan perokok. Penyelidikan baru-baru ini menunjukkan bahwa asap yang mengepul (tidak dihisap oleh perokok) dari tembakau yang terbakar di ujung rokok lebih berbahaya daripada asap yang langsung dihisap oleh perokok.

Gas radon
Radon adalah gas yang tidak berwarna dan berbau yang dihasilkan oleh radium ber-radioaktif, yang menimbulkan produk uranium yang kehilangan isotop, yang ditemukan di kerak/lapisan bumi. Radiasi menyebabkan mutasi yang terkadang berubah menjadi kanker. Paparan radon adalah penyebab utama kedua kanker paru-paru setelah merokok. Tingkat gas radon berbeda di setiap tempat dan tergantung komposisi batu dan tanah.

Asbes
Asbes dapat menyebabkan berbagai penyakit paru-paru, termasuk kanker paru-paru. Ada efek sinergi antara tembakau rokok dan asbes dalam pembentukan kanker paru-paru. Di Inggris, asbes merupakan 2 – 3 % menjadi penyumbang kematian akibat kanker paru-paru. asbes juga dapat menyebabkan kanker pada selaput paru-paru, yang disebut mesothelioma.

Virus
Virus diketahui menyebabkan kanker paru-paru pada hewan dan baru-baru ini ditemukan potensi serupa pada manusia. Virus yang berperan dalam hal ini yaitu  Human papillomavirus, JC virus, simian virus 40 (SV40), BK virus, dan cytomegalovirus. Virus-virus ini dapat mempengaruhi siklus sel dan menghalangi apoptosis, sehingga sel-sel menjadi tak terkendalikan.

Diagnosis
Melakukan sinar rontgen pada dada adalah langkah pertama jika pasien melaporkan gejala yang mengarah kepada kanker paru-paru. Hal ini dapat mengungkapkan pelebaran mediastinum (menyebar ke kelenjar getah bening di sana), atelectasis, consolidation (pneumonia), dan cairan pleural. Jika tidak ada temuan radiografi, tetapi kecurigaan tinggi (seperti pada perokok berat dengan dahak bercampur darah), bronchoscopy dan / atau scan CT dapat memberikan informasi yang diperlukan. Bronchoscopy atau CT – membimbing biopsi yang sering digunakan untuk mengidentifikasi jenis tumor.

Dahak atypia dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru. Pemeriksaan  dahak cytologic dikombinasikan dengan pemeriksaan skrining lainnya bisa memainkan peranan yang penting dalam deteksi dini kanker di paru-paru.

Diagnosa yang berbeda bagi para pasien dengan ketidaknormalan  di dada (dari hasil rontgen) bisa menghasilkan kesimpulan adanya kanker paru-paru atau penyakit yang tidak berbahaya. Termasuk kemungkinan adanya penyakit  menular seperti tuberkulosis, radang paru-paru, atau kondisi radang seperti sarcoidosis. Penyakit ini dapat mengakibatkan mediastinal lymphadenopathy atau lung nodules: ini kadang-kadang mirip kanker paru-paru.

Perawatan
Perawatan untuk kanker paru-paru tergantung pada jenis sel kanker, seberapa jauh ia telah menyebar, dan status kondisi pasien. Perawatan ini berupa: operasi bedah, kemoterapi, dan terapi radiasi.

Bedah
Jika penyelidikan mengkonfirmasi adanya kanker paru-paru, CT scan dan (kadang juga)  positron emission tomography (PET) digunakan untuk menentukan apakah penyakit terlokalisasi (pada satu tempat tertentu) dan memungkinkan untuk dilakukan tindakan bedah atau apakah kanker telah menyebar ke titik di mana ia tidak dapat disembuhkan secara bedah.

Tes darah dan spirometry (uji fungsi paru-paru) juga penting untuk menilai apakah pasien cukup baik untuk menjalani operasi. Jika spirometry menyatakan cadangan pernafasan kurang/rendah (sering karena penyakit pulmonary kronis), operasi mungkin akan bersifat kontraindikasi.

Operasi pembedahan itu sendiri memiliki tingkat kematian sekitar 4,4%, tergantung pada fungsi paru-paru pasien dan faktor risiko lainnya.

Kemoterapi
Small cell lung cancers (SCLC) umumnya diobati  dengan kemoterapi dan radiasi. Kemoterapi juga dilakukan pada SCLC.

Kombinasi hidup tergantung pada jenis tumor. Non-small cell lung carcinoma (NSCLC) sering dirawat dengan cisplatin atau carboplatin, dikombinasikan dengan gemcitabine, paclitaxel, docetaxel, etoposide, atau vinorelbine. Pada SCLC, obat cisplatin dan etoposide paling sering digunakan. Kombinasi dengan carboplatin, gemcitabine, paclitaxel, vinorelbine, topotecan, dan irinotecan juga sering digunakan. Pada tahap yang lebih luas, SCLC yang diobati dengan celecoxib mungkin aman digabungkan dengan etoposide, kombinasi ini menunjukkan improvisasi untuk meningkatkan hasil.

Kemoterapi bantuan setelah operasi
Kemoterapi bantuan merujuk kepada penggunaan kemoterapi setelah operasi untuk meningkatkan hasil. Selama operasi, sampel diambil dari kelenjar getah bening. Jika contoh ini berisi kanker, pasien telah memasuki tahap II atau III penyakit. Dalam situasi ini, kemoterapi bantuan mungkin dapat memperbaiki kemungkinan hidup hingga 15%. Standar praktiknya  adalah untuk menawarkan platinum berbasis kemoterapi (yakni salah satu obat: cisplatin atau carboplatin).

Kemoterapi bantuan untuk pasien kanker tahap IB masih dianggap kontroversial, percobaan klinis tidak secara jelas menunjukkan manfaat kemoterapi ini untuk memberikan kemungkinan bisa sembuh.

Radioterapi (terapi radiasi)
Radioterapi biasanya diberikan bersama-sama dengan kemoterapi, dan dapat digunakan dengan sungguh-sungguh sebagai alternatif penyembuhan pasien dengan NSCLC yang tidak layak untuk operasi. Untuk kasus SCLC yang berpotensi tersembuhkan, radiasi dada sering direkomendasikan selain kemoterapi.

Sumber: Wikipedia.

Semua isi artikel ini hanyalah merupakan informasi untuk menambah pengetahuan, diagnosa dan obat untuk menyembuhkan penyakit terkait dengan artikel ini HARUS dikonsultasikan kepada dokter sesuai bidangnya terlebih dahulu.

Iklan
Kategori:Penyakit fisik Tag:
  1. erich
    20 Juli 2011 pukul 13:45

    nice, tapi kurang mengenai large cell ca…

  2. 18 April 2013 pukul 15:26

    I simply wished to take a few seconds and let you know that I
    really liked the write-up. I frankly don’t believe most people know what amount of energy that goes into producing a good internet site. I’m sure this will be sort of random
    however it bothers me occasionally. Anyways awesome blog.

  1. 19 Juni 2009 pukul 07:44

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: