Beranda > Topik panas > Akibat Flu H1N1: Suasana mencekam di Jepang

Akibat Flu H1N1: Suasana mencekam di Jepang

Kota Kobe, Jepang dilanda flu Meksiko. Sabtu silam lima pasien mengidap penyakit ini. Kini jumlahnya hampir mencapai 300 orang. Laporan koresponden Kjeld Duits.

Jalan-jalan di kota Ashiya, tempat tinggal saya dan kota tetangga Kobe, lebih sepi dari biasanya. “Seolah-olah ini hari raya Tahun Baru, melihat sedikitnya orang di jalan,” kata seorang perempuan muda. Kemudian ia menunjuk pada penutup mulut yang dipakainya. “Ini untuk putri saya. Dia di rumah, karena sekolah ditutup.”

Akibat merebaknya wabah flu, lebih dari 4.000 sekolah di Kobe dan sekitarnya ditutup pekan ini. Di jalan-jalan Ashiya dan Kobe hampir tidak terlihat anak-anak, siswa-siswi sekolah menengah dan bahkan mahasiswa-mahasiswi universitas.

Suara anak-anak
Awal pekan ini saya seharian meliput krisis flu yang melanda Jepang. Dalam waktu delapan jam saya hanya melihat tiga orang ibu dengan anak kecil. Di gedung tempat saya tinggal terdengar suara gembira anak-anak. Seolah-olah ini liburan musim panas.

Jalan pertokoan terpenting Kobe, yang biasanya sangat ramai, kini kosong. Bahkan kereta api lebih kosong dari biasanya. Di jam sibuk, saya sering harus berdesak-desakan untuk masuk. Tapi kini banyak sekali tempat duduk kosong. Kemudian soal masker penutup mulut. Hampir semua penumpang kereta memakainya. Di jalan-jalan Kobe, saya mulai menghitung, 80% pejalan kaki mengenakannya.

Penutup mulut berwarna putih
“Takutkah anda dengan flu?” tanya saya kepada beberapa orang. “Tidak,” jawab mereka. Kendati demikian mereka tidak mau mengambil resiko. Pekerja tidak punya pilihan lain. Perusahaan tempat mereka bekerja mewajibkan mereka memakai penutup mulut. Polisi, staf jawatan kereta api, bank, semua orang yang berurusan dengan makanan, semuanya memakai penutup mulut berwarna putih.

Bahkan penjaga gedung apartemen saya memakainya. “Senin kami ditelepon kantor induk,” jelasnya, “kalau berhubungan dengan orang, kami harus memakai penutup mulut.” Dia menganggap itu tidak berguna sama sekali. “Semua ini berlebihan, tapi saya harus melakukannya. ”

Pertemuan dan acara besar dibatalkan. Toko-toko mulai jarang didatangi pelanggan. “Omzet kami anjlok hingga 60%,” ujar seorang pemilik toko bunga, tempat saya biasa membeli bunga. Bagi pemilik toko dan usahawan yang sudah mengalami dampak resesi, merupakan sial besar bahwa orang-orang tidak lagi keluar rumah. Bahkan di kantor pos suasananya sepi. “Pelanggan kami turun hingga separuhnya,” kata seorang manajer.

Mimpi buruk
Keputusan pemerintah menutup semua sekolah membawa dampak negatif yang jauh lebih besar ketimbang flu itu sendiri, baik sosial maupun ekonomi. Bagi ibu bekerja dan majikan mereka, ini suatu mimpi buruk. Beberapa ibu membentuk kelompok. Secara bergilir salah satu dari mereka merawat semua anak, sehingga ibu lain dapat bekerja.

Saya tidak takut. Memang saya pun memiliki penutup mulut, tapi tidak saya pakai. Namun kendati saya menganggap semua ini berlebihan, saya tak bisa mengabaikan dampak situasi ini terhadap diri saya. Jalan-jalan sepi pada hari kerja seperti ini, membuat suasana mencekam. Wajah-wajah dengan masker penutup mulut dan hidung menghantui saya. Ketika saya, seusai kerja, pulang ke rumah dan beristirahat di kursi, saya diselimuti perasaan tegang.

Dengan sekolah ditutup sampai akhir pekan, perasaan aneh itu tetap menghantui saya.

Sumber: Warta Berita Radio Nederland – mailinglist jakarta_melawan_flu@yahoogroups.com (pengirim Djuni Pristiyanto).

Kategori:Topik panas Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: