Beranda > Cerita > dari walking ke writing

dari walking ke writing

Dari hal yang sederhana kita bisa menulis, ah sayang sekali saya orangnya mobile kadang sebulan-dua bulan di satu kota, kadang selanjutnya di kota lainnya. Maklum orang-orang yang saya sayangi ada di beberapa kota, wehh bukan berarti saya berpoligami (ini sesuatu yang sah tetapi selalu menjadi sumber berita gosip). Sehingga saya kurang ada waktu untuk menulis.

Hari ini saya banyak belajar, berselancar ke sana ke mari, lihat banyak blog-blog dan artikel. Saking banyaknya yang saya pelajari jadi mumet sendiri, soalnya dari pagi jam 9 sampai jam 1 pagi (lagi) lebih banyak di depan laptop (dengan ditemani wimode esia saya yang sudah lama tidak saya buatkan tulisannya). Bener juga kata orang, alon-alon asal kelakon (pelan-pelan saja yang penting dijalani), kalau kita mau pinter dalam satu hari sungguh tidak bisa. Apalagi saya sendiri sudah semakin menua, otak tidak segesit dulu lagi. Ha ha omonganku kayak kakek-kakek wae.

So.. saya tidak melihat yang hebat dari sesuatu blog yang besar kecuali saya pelajari apa yang membuat dia seakan besar. Kata ‘seakan’ ini mungkin sama dengan se-akan-akan wis sukses, apik. But kebanyakan saya saya masih belum menemukan yang semestinya itu bagaimana dan bisa membuat blog saya sendiri bisa besar. Kita bisa memasukkan download-an mp3, kita bisa memasukkan pancingan download-an software walau itupun mungkin link dari orang lain, kita bisa masukin apapun dalam blog kita yang bersumber pada dan dijamin itu akan menaikkan jumlah pengunjung. Syukurlah, saya dari dulu agak kurang biasa nyontek (walau pernah sih sesekali nyontek), idealis yang berdarah-darah, sehingga saya tidak melihat segala kemajuan pesat yang diukir oleh suatu blog dengan jalan-jalan ekstra pintas itu adalah sesuatu yang semestinya juga harus saya ikuti. Apa yang kita dapat dari semua ini?

Teorinya adalah.. content adalah segalanya. Tetapi, content yang bagaimana. Apakah menumpukkan segala asesoris banner berwarna warni, atau ber-flash ria? atau berita-berita koran yang kita tumpuk di blog kita (banyak blog yang memasukkan tulisan koran tanpa menuliskan sumbernya, ini apa?) tanpa kita tahu manfaatnya apa buat kita dan orang lain yang membacanya. Saya suka melihat situs yang isinya khusus, misal tentang tutorial, atau apalah yang berbau ‘how to’, apakah yang semacam ini yang saya inginkan? saya sendiri masih belum tahu content yang bagaimana yang saya inginkan karena saya masih tergolong baru dalam dunia perblog-an.

Dulu. sekitar 10 tahun yang lalu saya pertama kali belajar membuat website masih pakai frontpage. Lama-lama berkembang pakai flash atau mungkin campuran keduanya. Kadang saya coba pakai dreamweaver dan firework. Itu semua berat jika kita tidak belajar sedikit banyak tentang bahasa HTML dan script. Dulu saya gak tau bertanya ke mana selain membeli buku, masih sangat sedikit artikel di internet pada waktu itu. Sekarang, begitu banyak artikel-artikel di internet tentang macam-macam rupa bak isi pasar (walau kebanyakan juga ada ujung-ujungnya ‘join’ ini itu bisnis, Its oke, terserahlah namanya juga orang usaha). Sesungguhnya ini sangat membantu, tetapi sangat sedikit sekali yang membantu orang dalam mengembangkan keinginan untuk belajar menulis sendiri!

Mungkin juga… saya ini dulu pernah buat-buat poster, jadi sedikit banyak ngerti bagaimana menata suatu ruang supaya tampak enak dipandang. Sehingga saya susah untuk meribetkan blog saya dengan asesoris yang tidak ada fungsinya sama sekali. Namun jika kita lihat contoh situs yang sangat sukses seperti detik.com maka segala teori ‘keindahan’ yang saya tahu itu gak ada artinya, di sana di detik.com mementingkan content daripada tampilan. Kenyataannya mereka berhasil karena apa yang mereka jual itu memang dibutuhkan orang lain: informasi dari sumber daya pengumpul informasi yang detik.com miliki sendiri. Kalau kita bener teliti, cara penyajiannya seperti koran yang pangsa pasarnya menengah ke bawah. Tetapi jangan lupa bahwa yang menegah ke bawah itulah kuantitasnya yang lebih banyak daripada yang menengah ke atas.

Kompas bagus, tapi masih jauh dari detik, karena mungkin orang lebih dahulu mengenal detik ketimbang kompas. saya kira, masih banyak hal yang perlu saya pelajari, tapi ya kapan-kapan saja wong dasar-dasar blog saja saya masih banyak belum ngerti. hehe gitu bawaannya protes saja ya.

Ah sudahlah, ini cuma tulisan saya saja. Saya tersenyum melihat kata-kata apa yang paling sering dicari orang Indonesia di search engine-nya google : download, mp3, bokep, mem*k, sex. Itulah wajah pasar kita sehingga situs-situs porno di luar negeri mencantumkan kata ‘Jakarta’ untuk memancing kita memasuki situsnya.

Hayoo ketauan sering masuk situs porno yaa…. 🙂 I just walking.

Iklan
Kategori:Cerita Tag:
  1. 11 Juli 2014 pukul 13:47

    Greetings I am so excited I found your webpage, I really found you by error, while I was searching on Askjeeve for
    something else, Anyways I am here now and would just like to say thanks for a remarkable post
    and a alll round exciting blog (I also love thhe theme/design), I don’t have time to go through it
    all at the moment but I have saved it and also added in your RSS
    feeds, so when I have time I will be back to read much more, Please do keep upp the awesome work.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: