Beranda > Politik > Caleg stres

Caleg stres

Salah satu berita yang ramai dibicarakan pasca Pemilu di Indonesia adalah munculnya fenomena caleg stres, tentunya caleg stres karena sangat sedikit orang yang memilih dia saat Pemilu legislatif lalu. Antara harapan dan kenyataan sangat jauh berbeda. Saya kadang kasihan juga melihat mereka yang stres di TV, terlepas apakah itu stres beneran atau cuma bikin sensasi supaya masuk TV, itu bisa juga menunjukkan betapa rapuhnya mental caleg-caleg tersebut. Bahkan ada yang sampai bunuh diri, batas untuk memilih hidup dan mati ternyata cuma pada sesuatu yang disebut dengan contrengan.

Hal ini mungkin juga akan terjadi pada caleg-caleg yang sudah pasti terpilih duduk di kursi basah anggota legislatif baik di pusat maupun daerah, jika mereka tidak terpilih menjadi wakil rakyat maka mereka pun mungkin akan stres pula. Saya membayangkan bahwa saya pun akan stres jika sudah mengeluarkan ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk dana kampanye tetapi pada kenyataannya tidak jadi terpilih menjadi anggota dewan. Lebih-lebih jika duit sedemikian besar itu didapat dari berhutang kepada orang lain.

Ada kemungkinan caleg-caleg tersebut menjadi stres karena malu karena sudah berkoar sana-sini berkampanye, malu pada tetangga, pada mertua, pada teman-teman, dan malu pada semua (bersyukurlah jika anda masih merasa rasa malu saat ini walaupun konteksnya jauh lebih rendah ketimbang malu pada Tuhan karena tidak mampu memenuhi janji-janji selama kampanye kelak). Ada kemungkinan pula karena mereka merasa gagal mendapat pekerjaan baru mencari nafkah keluarga karena selama ini menganggur gak jelas pekerjaannya? Bagaimanapun alasannya, stres ya stres. Saya yakin mayoritas rakyat Indonesia gak ambil pusing kepada mereka yang stres, who cares?

Ketika seseorang memilih dan terdaftar secara resmi di KPU/KPUD sebagai caleg, saat itulah dirinya harus siap untuk kalah. Bahkan ada guyonan yang mengatakan bahwa sebenarnya pada saat mereka memilih menjadi caleg, maka saat itulah mereka sudah menjadi ‘orang stres’, mengapa? jika seseorang benar-benar mengetahui betapa berat beban dan tanggungjawab moral mereka di hadapan Tuhan kelak pada hari kiamat (ini berlaku bagi seorang muslim dan mungkin juga kristiani) maka mereka tidak akan memilih menjadi caleg walaupun peluang mereka untuk terpilih sangat besar karena mungkin dia : sudah populer, diusung oleh partai yang besar, dan ditempatkan pada nomor urut satu dari daftar pilih. Selama lima tahun ke depan, sekian puluh ribu orang akan dia wakili dan juga menggantungkan hidup dan penghidupannya pada sang caleg terpilih, sebesar itulah beban moral yang ditumpukan pada pundak sang caleg. Hanya orang-orang yang super saja yang mampu melakukannya bukan?

Rakyat berharap bahwa jangan ada lagi ‘dusta diantara kita’. Apakah Pemilu yang diselenggarakan selama ini sudah benar-benar membuat anggota dewan yang terhormat tersebut menjadi semakin konsisten dengan ucapan-ucapannya saat Pemilu? atau mereka akan semakin mengingkari kata-katanya sendiri? Lagi-lagi seperti lirik sebuah lagu : kau yang berjanji dan kau juga yang menodai… Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, karena melihat sistem perpolitikan di negara kita yang membuat kekuasaan dan kepentingan partai di atas sang anggota legislatif akan membatasi seorang anggota legislatif untuk berbicara dan berprilaku jujur serta konsisten memperjuangkan hak konstituennya.

Cukup sudah bangsa ini membiarkan persentase penduduk yang memiliki hak pilih untuk memilih golput dari pemilu ke pemilu – akibat ingkar janji dari anggota dewan tersebut – semakin membesar. Mengapa partai-partai besar tidak berusaha untuk itu padahal mereka bicara tentang kepentingan bangsa dan negara?

Iklan
Kategori:Politik Tag:
  1. 28 April 2009 pukul 05:16

    Assalamu ‘alaikum mas, demi menjalin silaturahmi sesama Blogger marilah kita saling bertukar link, gimana mas?? Salam kenal yah dari Dedhy Kasamuddin 😀

    • pisangkipas
      28 April 2009 pukul 05:20

      wa’alaikum salam, ya saya setuju tapi gimana caranya ya, maklum saya orang baru blajar bikin blog gak ngerti caranya hehe..

  2. pisangkipas
    28 April 2009 pukul 06:07

    ok udah bisa dilink. thx dah berkunjung

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: