Beranda > Renungan > Tersenyumlah

Tersenyumlah

Hatimu seluas lautan..Itu judul emang agak gak jelas tujuannya kemana :) Tapi kayaknya gak jauh-jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Saya sendiri kadang marah-marah sendiri, jengkel-jengkel sendiri… padahal itu hanya karena masalah sepele seperti ditegur orang lain (kadang dinasehati dengan cara baik-baik pun kita jadi tersinggung, padahal nasehatnya benar isinya). Bener gak yah? Cuma seperti kata pepatah ‘gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak’, kita suka mengkritik orang lain padahal kita sendiri tak mau bercermin – melihat diri sendiri: sebaik apakah kita dibanding orang lain? Apakah kita tidak pernah punya salah, aib dan dosa?

Nah mungkin ini masalahnya.. kita kadang sulit mengakui bahwa kita bodoh dan penuh kelemahan karena kita ingin tampak sempurna di mata orang lain. Tentunya bukan berkoar-koar mengatakan anda bodoh, tapi dari sikap tau diri dan rendah diri akan mencerminkan bahwa kita adalah orang yang bersahaja.. apa adanya. Jika kita santai saja memaknai hidup.. bersikap sewajarnya dan tentu saja selalu bercermin, maka kita akan menanggapi apapun kritikan dan saran orang lain itu dengan santai. Buatlah hati kita menjadi luas, seluas lautan .. jadi kritikan apapun dari orang lain itu ibarat air segelas yang kita telan kemudian masuk ke ‘lautan’ itu. Bahasa kerennya : berjiwa besar. Walau sangat kompleks jalan untuk menjadi orang seperti ini, tapi bukan tidak mungkin kita bisa menjadi seperti itu.

Orang stress kadang karena memikirkan hal-hal sepele yang seharusnya tak perlu ditanggapi. Enjoy lah, santailah karena rileks itu menyebabkan hormon-hormon di tubuh anda bekerja dengan alamiah.. santai juga. Kalo terlalu stress ntar jantung kita jadi harus bekerja lebih keras seperti biasanya. Itu bukan hanya nantinya pelan-pelan merusak jantung, efeknya akan ke pembuluh darah dan organ tubuh lainnya. Saya gak akan bicara tentang efek-efeknya karena sudah banyak ditulis orang lain.

Itu kalo masalahnya sepele ya, trus gimana kalo masalahnya lebih berat misal karena patah hati. Kalo masalah patah hati sih, hampir setiap orang pernah mengalaminya. Kita gak berpacaran saja pada saat menyukai seseorang dan orang itu pada suatu saat ‘jalan’ dengan orang lain akhirnya menyebabkan kita cemburu bukan? Sakiiiit hati ini, padahal kita bukan siapa-siapa dia. Agak berbeda sedikit jika kita patah hati karena pasangan kita (baik berpacaran maupun sudah nikah) berselingkuh misal atau tidak memperdulikan kita, ini harus diselesaikan dengan komunikasi secara terbuka, tentunya hal-hal yang dibicarakan harus yang positip dulu lah (kecuali ada bukti nyata ya). Mungkin kita yang salah, terlalu menuntut pasangan kita, tidak mau tau perasaan pasangan kita, tidak mau belajar apa yang disukai dan tidak disukai pasangan kita dan lain sebagainya. Berkomunikasi itu penting, akal itu penting, kalo kita mengutamakan nafsu amarah kita maka habislah kita dibakar amarah kita, bisa-bisa dengan Tuhan pun kita jadi marah. Piring panci wajan gelas dibanting, apaaa mau kita kalo sudah begitu.. padahal kalo dipikir ya gak jelas maksudnya ya hehe… 🙂 Bukan maksud saya mengatakan tindakan-tindakan seperti itu salah dan bodoh pada saat emosi, tapi itu sungguh tidak menunjukkan bahwa kita orang yang berjiwa besar dan sabar. Apalah artinya kita selama hidup ini belajar sabar dan memohon kepada Tuhan untuk dijadikan orang sabar, jika kita sendiri tidak memulai dari diri sendiri?

Ada beberapa orang yang saling membunuh hanya karena masalah sepele, misal karena masalah duit seratus duaratus ribu (atau jutaan pun apalah guna membunuh?), juga bertindak kasar secara fisik kepada orang lain, memaki dan mengungkit aib-aib orang lain. Mengapa kita harus begitu? Mengapa kita tidak belajar sabar pada saat kita tidak ada masalah dengan tidak berlebihan bergembira pada saat senang, sehingga pada saat kita ditimpa kerisauan dan kegundahan diri kita pun tidak terlalu pelik memikirkannya?

Puji syukur ke-Hadirat Allah Tuhan semesta alam.. syukurilah hidup ini disaat susah karena masih ada orang yang lebih susah dari kita. Syukurilah saat kita senang, bukan dengan berlebihan menganggap bahwa diri kita adalah yang terbaik di alam ini. Kita ini tidak ada apa-apanya dibanding tingginya gunung dan luasnya lautan bukan? Syukurilah disaat sedih dengan tersenyum di bibir dan hati kita, karena sungguh kita telah diberi cobaan yang akan membuat kita akan lebih dewasa. Membuat kita lebih siap menghadapi hari esok.

Iklan
Kategori:Renungan Tag:
  1. nurul wahyuni
    16 Mei 2009 pukul 11:55

    Di kotaku yaitu Tanah Grogot salah satu kabupaten di Kalimantan Timur, budaya tersenyum masih menjadi kebiasaan baik masyarakat di sini, adem rasanya kenal tidak kenal bila berpapasan selalu saling senyum baik yang tua pada yang tua maupun yang tua pada yang muda begitu sebaliknya.Semoga orang-orang Grogot, Kabupaten Paser khususnya memiliki tingkat stress yang rendah karena kebiasaannya keep smile………

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: