Beranda > Cerita > Patah tulang

Patah tulang

Dua tahun sudah berlalu semenjak lengan kananku dioperasi karena patah tulang. Tidak ada lagi rasa nyeri dilengan, cuma saja kadang terasa ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya. Mungkin pengaruh desakan daging. Tulang lengan kanan saya patah karena jatuh saat sepeda motor selip, waktu itu saya dalam perjalanan senja hari menjelang malam di daerah Nganjuk. Orang bilang itu wilayah jalur tengkorak karena banyak kejadian kecelakaan di sana. Terlepas dari segala hal-hal mitos yang mengiringinya, jalan lebar yang menjadi urat nadi tengah wilayah Jawa Timur yang menghubungkan Surabaya-Jogja itu memang merupakan jalur yang berbahaya jika kita tidak fokus mengendarai kendaraan. Banyak bis dan truk gandeng, jika kita menggunakan sepeda motor dengan nyali sedang-sedang saja atau tidak mengenal medan lebih baik pelan-pelan saja mengambil jalur kiri. Belum lagi kurangnya lampu penerang jalan membuat perjalanan di malam hari harus ekstra hati-hati. Aspalnya bergelombang, ini mungkin karena sering dilewati kendaraan berat, dan mungkin juga ini yang menyebabkan saya kehilangan kendali dengan sepeda motor saya saat mengerem mendadak.

Biasanya saya menghindari melakukan perjalanan luar kota pada malam hari karena mata saya agak silau terhadap cahaya lampu dim dari kendaraan yang berlawanan arah. Dari arah Kediri menuju Madiun dalam rangka tugas kerja antar kota, biasanya saya bermalam di Nganjuk jika malam hari. Tapi hari itu saya memang dikejar waktu harus sampai Madiun dari Jombang (berbeda suasana jalan dari Kediri-Nganjuk yang relatif lebih sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor pada malam hari), mau tau mau saya harus sampai Madiun kota pada malam itu juga. Kebetulan saya berboncengan dengan teman saya, saya yang di depan membawa motor.

Di daerah memasuki kota Nganjuk itulah sepeda motor saya slip dan jatuh karena saya mengerem mendadak menghindari sepeda pancal yang tiba-tiba nampak di depan saya. Mungkin karena pengaruh ngantuk dan refleks saya yang super hati-hati berkendaraan di malam hari menyebabkan saya mengerem mendadak padahal kecepatan saat itu cuma antara 70 – 80 km/jam. Tidak terlalu lama karena kejadian begitu cepat, sadarnya saya setelah tiba di pos polisi terdekat dengan tangan kanan yang patah dan tak bisa digerakkan plus muka bagian kanan luka-luka. Jadinya besok harinya muka saya jadi bengkak sebelah. Gosip yang menyebar di antara teman-teman saya adalah muka saya hancur tak berbentuk. Lucu juga sekaligus terdengar seperti guyonannya keluarga Flood. Di depan rumah sakit menunggu dokter orthopedi datang,dengan tangan diperban sebelah dan menggunakan perban segitiga yang diikatkan pada leher, saya minta difoto teman saya karena ini termasuk moment penting dalam hidup saya. Jadi teringat pengalaman dulu melihat beberapa orang yang asyik berfoto menggunakan baju pelampung di tubuhnya saat gosip (lagi-lagi gosip) menyebar pada seluruh awak ferry yang saya tumpangi dari LOmbok ke Bali itu akan tenggelam karena AC bis di ruang bawah berasap. Saya pikir benar juga mereka mengambil momen begitu untuk diabadikan karena jarang sih terjadi di Indonesia, biasanya gak sempat berfoto-foto tau-tau pesawat udah nyungsep di tanah atau laut.

3 hari kemudian tangan saya dioperasi pasang pen di rumah sakit. Saya pikir cuma bius lokal sekitar lengan, eh gak taunya bius total, dibuat pingsan. Entah tubuh saya diapa-apain oleh dokter dan kru-nya, tau-tau saya udah bangun. Pada kondisi setengah bangun, saya pakai acara ngamuk lagi mukulin dokter dan perawat-perawat. Mungkin ‘prewangan’ saya gak terima tubuh saya dibedah ha ha.. Kalo saja saya sadar 75 persen saja, saya gak akan tega nyakitin suster-suster muda dan cantik yah. Ah saya tanya apa saya nyakitin mereka, mereka bilang saya seperti orang kesurupan. Anda tau kesurupan? orang bilang tubuh anda dimasukin jin atau setan jadinya kesurupan. Selama ini saya mengalami kesurupan 2 kali, benar-benar dimasukin jin. Pertama waktu SMP dulu, ini mungkin karena kelelahan karena begadang semalaman dengan teman-teman, tentunya bicara yang porno-porno, pada saat berkemah di tengah hutan. Kesurupan selanjutnya saat usia 23 tahun, saat itu saya bangun tidur mendadak mendengar bunyi-bunyian tape membangunkan orang untuk sahur. Terasa ada sesuatu yang berat di tubuh bagian belakang saya seakan mau menguasai tubuh tapi akal sehat saya melawan. Tubuh terasa gak enak sekali, untung ada teman saya yang pinter ngobatin kasus-kasus begituan. Gak lama kemudian (entah karena sugesti atau apa) badan saya jadi terasa normal kembali. Untuk ‘kasus’ ketiga di rumah sakit itu saya percaya aja dikatakan kesurupan, tapi mungkin juga ya karena pengaruh obat anestesi.

2 minggu pasca operasi, jahitan dilengan saya akhirnya bisa dilepas sekaligus semua perbannya. Tepat 2 minggu kemudian (kira-kira 1 bulan setelah kecelakaan), ayah saya meninggal dunia karena diabetes. Orang bilang jika kita bermimpi kita kehilangan tangan kanan maka kita akan kehilangan ayah. Tapi yang saya alami ini benar-benar nyata patah tulang di lengan kanan!

Ampuni kami Ya Allah. Berikanlah pada kami rahmat-Mu di setiap PAGI hari, bukan azab bencana yang memilukan sekaligus memalukan.

Technorati Profile

Iklan
Kategori:Cerita Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: