Beranda > Definisi, Penyakit fisik > Autoimmunity

Autoimmunity

Autoimmunity adalah kegagalan organisme  untuk mengenali bagian-bagian penyusunnya sebagai bagian dari dirinya sendiri, yang memungkinkan respon imun terhadap sel sendiri dan jaringan. Setiap penyakit yang dihasilkan dari hal-hal yang berkaitan dengan  respon imun yang menyimpang disebut penyakit autoimun. contoh menonjol termasuk penyakit coeliac (seliaka?), diabetes mellitus tipe 1 (IDDM), systemic lupus erythematosus (SLE), sindrom Sjögren, sindrom Churg-Strauss, tiroiditis Hashimoto, penyakit Graves’, idiopathic thrombocytopenic purpura, dan rheumatoid arthritis (RA).

Kesalahpahaman bahwa sistem kekebalan tubuh seseorang sama sekali tidak mampu mengenali antigen diri bukanlah hal baru. Paul Ehrlich, pada awal abad kedua puluh mengajukan konsep horror autotoxicus, yang menyatakan bahwa  tubuh yang ‘normal’  tidak akan meningkatkan respon imun terhadap jaringannya sendiri. Dengan demikian, setiap respon autoimun itu bisa dianggap abnormal dan  dihubungkan dengan penyakit manusia. Sekarang ini, telah  diterima bahwa respon autoimun merupakan bagian integral dari sistem kekebalan tubuh vertebrata (kadang-kadang disebut ‘autoimmunity alami’), yang secara normal dicegah/terlindungi oleh fenomena toleransi imunologi dari efek yang bisa menyebabkan penyakit  untuk antigen di dirinya sendiri.

Toleransi imunologi
Penelitian oleh Noel Rose dan Witebsky di New York, dan Roitt dan Doniach di University College London memberikan bukti jelas bahwa setidaknya dalam hal  antibodi-limfosit B, penyakit seperti rheumatoid arthritis dan tirotoksikosis berhubungan dengan kehilangan toleransi imunologi, yang merupakan kemampuan seseorang untuk mengabaikan ‘diri’nya sendiri, namun bereaksi terhadap ‘non-diri’ sendiri. Kerusakan ini mengarah ke sistem kekebalan tubuh yang bertugas meningkatkan respon imun yang efektif dan spesifik terhadap faktor penentu diri. Asal-usul yang pasti dari toleransi imunologi masih sulit dipahami, tetapi beberapa teori telah diajukan sejak pertengahan abad kedua puluh untuk menjelaskan asal-usulnya.
Tiga hipotesis telah mendapatkan perhatian luas di kalangan immunologists:

  • Teori Penghapusan klonal (Clonal Deletion theory,) , diusulkan oleh Burnet, yang menyatakan bahwa sel limfoid (yang reaktif terhadap diri sendiri) telah dihancurkan selama pengembangan sistem kekebalan tubuh seseorang.
  • Teori anergy klonal (Clonal Anergy theory), diusulkan oleh Nossal, dalam hal ini sel-sel T atau B (yang reaktif terhadap diri sendiri) menjadi tidak aktif dalam individu normal dan tidak dapat memperkuat respon imun.
  • Idiotype Network theory, diusulkan oleh Jerne, dalam hal ini jaringan (network) antibodi yang mampu untuk menetralkan antibodi-antibodi (yang reaktif terhadap diri sendiri) ada secara alami dalam tubuh.

Sebuah fitur membingungkan dari hilangnya toleransi yang didokumentasikan terlihat bahwa terjadinya autoimmunity manusia secara spontan itu hampir seluruhnya terbatas pada tanggapan autoantibodi yang diproduksi oleh limfosit B. Hilangnya toleransi oleh T sel sangat sulit untuk dibuktikan karena respon sel T yang abnormal biasanya tidak diakui oleh antigen autoantibodi.

Faktor genetik
Individu-individu tertentu secara genetik rentan terkena penyakit autoimun. kerentanan ini dikaitkan dengan beberapa gen ditambah faktor risiko lain. Namun secara genetik, setiap orang cenderung tidak selalu mengembangkan penyakit autoimun.
Gen-gen (Penyakit autoimun) berkaitan dengan:

  • Imunoglobulin
  • T-sel reseptor
  • Kompleks histokompatibilitas mayor (MHC).

Dua yang pertama, terlibat dalam pengakuan (pengenalan) antigen, yang pada dasarnya ini memiliki banyak variabel dan rentan terhadap rekombinasi. Variasi ini memungkinkan sistem kekebalan untuk menanggapi berbagai intervensi yang sangat luas, tetapi juga dapat menimbulkan limfosit yang mampu me-reaktivitasi diri.

Para ilmuwan seperti H. McDevitt, G. Nepom, J. dan J. Todd Bell juga telah menyediakan bukti kuat yang menunjukkan bahwa  MHC kelas II allotypes tertentu sangat berkorelasi dengan

  • HLA DR2 sangat berkorelasi positif dengan Sistemik Lupus Eritematosus (SLE), narkolepsi dan multiple sclerosis, dan berkorelasi negatif dengan DM Tipe 1.
  • HLA DR3 berkorelasi kuat dengan sindrom Sjögren, myasthenia gravis, SLE, and DM Type 1.
  • HLA DR4 berkorelasi dengan asal-usul rheumatoid arthritis, diabetes mellitus tipe 1, dan pemphigus vulgaris.

Kurang ada korelasi dengan MHC kelas I molekul, yang paling terkenal dan konsisten merupakan asosiasi adalah antara HLA B27 dan ankylosing spondilitis. Mungkin ada korelasi antara polymorphisms  dalam promotor-prmotor MHC kelas II dan penyakit autoimun.
Kontribusi dari gen di luar kompleks MHC tetap menjadi subyek penelitian.

Jenis kelamin
Jenis kelamin seseorang juga tampaknya memiliki beberapa peran dalam  autoimmunity. Hampir 75% dari lebih dari 23.500.000 orang Amerika yang menderita penyakit autoimun adalah perempuan, meskipun mungkin terdapat jutaan orang lainnya yang juga menderita penyakit ini namun tidak terdata. Menurut American Autoimmune Related Diseases Association (AARDA), penyakit autoimun yang berkembang pada laki-laki cenderung lebih parah. Sebuah penyakit autoimun pada beberapa pria itu sama atau lebih mungkin dapat pula berkembang pada perempuan, diantaranya: ankylosing spondilitis, diabetes mellitus tipe 1, granulomatosis Wegener, penyakit Crohn dan psoriasis.

Faktor Lingkungan
Hubungan terbalik yang menarik ada di antara penyakit menular dan penyakit autoimun. Di daerah mana penyakit menular menjadi endemik, penyakit autoimun cukup jarang terlihat. Sebaliknya, di mana tidak ada endemik penyakit menular maka di situ terdapat banyak kasus autoimun. Atribut hipotesis  higiene ini berkorelasi  ke strategi manipulasi kekebalan patogen.

Pengamatan paradoksal telah menjadi asosiasi yang kuat antara organisme mikroba tertentu dengan penyakit autoimun. Sebagai contoh, Klebsiella pneumoniae dan B coxsackievirus  kuat berkorelasi dengan ankylosing spondylitis, dan diabetes melitus jenis 1. Ini telah dijelaskan dengan kecenderungan organisme menginfeksi untuk memproduksi super-antigen yang mampu meng-aktivasi poliklonal B-limfosit, dan produksi dalam jumlah besar dari berbagai antibodi yang spesifik, beberapa di antaranya mungkin dreaktif terhadap diri sendiri.

Bahan/agen kimia dan obat-obatan tertentu juga dapat dikaitkan dengan asal-usul kondisi autoimun, atau kondisi yang mensimulasikan penyakit autoimun. Yang paling mencolok  adalah obat yang  induced (dipaksakan?) pada lupus erythematosus.
Rokok merokok kini ditetapkan sebagai faktor risiko utama bagi insiden dan keparahan rheumatoid arthritis. Ini mungkin berhubungan dengan citrullination abnormal protein, karena efek dari merokok berhubungan dengan adanya antibodi terhadap peptida citrullinated.

Klasifikasi
Penyakit autoimunity dapat secara luas dibagi menjadi gangguan autoimun sistemik dan organ-spesifik atau lokal, tergantung pada fitur clinico-pathologic pokok masing-masing penyakit.

  1. Sistemik autoimun : penyakit lupus, sindrom Sjögren, skleroderma, rheumatoid arthritis, dan dermatomyositis. Kondisi ini cenderung dikaitkan dengan autoantibodi untuk antigen yang tidak spesifik jaringan.
  2. Lokal sindrom yang mempengaruhi organ tertentu atau jaringan:

* Gastrointestinal: penyakit Coeliac, anemia pernisiosa
* Dermatologic:  Pemphigus vulgaris, Vitiligo
* Haematologic: Autoimmune haemolytic anaemia, Idiopathic thrombocytopenic purpura
* Neurologis: Myasthenia gravis
* Endocrinologic: Diabetes mellitus tipe 1, tiroiditis Hashimoto, penyakit Addison.

Menggunakan tradisi “organ khusus” dan “non-organ khusus” pada skema klasifikasi, banyak penyakit telah disatukan di bawah payung penyakit autoimun.

Diagnosa
Diagnosis gangguan autoimmun sebagian besar bergantung pada riwayat yang akurat dan pemeriksaan fisik pasien, serta indeks kecurigaan yang tinggi dengan latar belakang kelainan tertentu dalam tes laboratorium rutin (misalnya, peningkatan protein C-reaktif). Dalam beberapa kelainan sistemik, tes serologi yang dapat mendeteksi autoantibodies spesifik dapat digunakan. Gangguan terlokalisasi sebaiknya didiagnosa melalui immunofluorescence spesimen biopsi. Autoantibodi digunakan untuk mendiagnosa banyak penyakit autoimun. Tingkat autoantibodi diukur untuk menentukan perkembangan penyakit.

Perawatan
Pengobatan untuk penyakit autoimun secara tradisional yaitu imunosupresif, anti-inflamasi, atau paliatif. Terapi non-imunologi, seperti penggantian hormon dalam tiroiditis Hashimoto atau diabetes mellitus tipe 1 memperlakukan hasil dari respon autoaggressive, sehingga ini adalah perawatan paliatif. Manipulasi diet (makanan) membatasi keparahan penyakit celiac. Steroid atau NSAID terbatas digunakan pada pengobatan dengan gejala inflamasi pada banyak penyakit. IVIG digunakan untuk CIDP dan GBS.
Terapi obat cacing adalah pendekatan eksperimental yang melibatkan inokulasi pasien dengan spesifik parasit nematoda usus (cacing).

Sumber: Wikipedia.

Semua isi artikel ini hanyalah merupakan informasi untuk menambah pengetahuan, diagnosa dan obat untuk menyembuhkan penyakit terkait dengan artikel ini HARUS dikonsultasikan kepada dokter sesuai bidangnya terlebih dahulu.

About these ads
Kategori:Definisi, Penyakit fisik Tag:
  1. 22 Desember 2011 pukul 13:27

    bagusssssssssssssssss

  2. 1 Maret 2013 pukul 04:58

    I’m not sure exactly why but this weblog is loading incredibly slow for me. Is anyone else having this issue or is it a problem on my end? I’ll check
    back later on and see if the problem still exists.

  3. 9 September 2013 pukul 11:41

    Hello, I log on to your new stuff on a regular basis.
    Your humoristic style is awesome, keep doing what you’re
    doing!

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.144 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: